Prasangka Buruk ~ Epistemic Violence

Belakangan sering saya temukan seseorang mengumumkan prasangka buruknya terhadap orang lain lewat social media — status facebook, twitter, ataupun status BBM (BlackBerry Messenger). Hal yang membahayakan dan mengecewakan adalah, belum sekalipun dia secara langsung mengkonfirmasi ataupun mengkonfrontasi prasangka buruknya dengan orang yang bersangkutan.

 

Mengumumkan prasangka buruk yang belum terbukti itu melalui social media seperti mengajak atau mengundang orang lain untuk ikut berburuk sangka pada orang yang dituju.

Ketika dengan sadar mengumumkan prasangka buruk yang belum terbukti tersebut, dia telah melakukan epistemic violence.

 

Epistemic sendiri merupakan “Theory of Knowledge”, terjemahan bebas untuk epistemic violence adalah suatu bentuk kekerasan yang ditujukan kepada objek tertentu, yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang menyeluruh mengenai objek tersebut, sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan kebenarannya.

 

Dalam hal mengumumkan prasangka buruk akan orang lain, maka epistemic violence dapat dikatakan sebagai pembunuhan karakter seseorang dengan menyebarkan hal/pengetahuan tentang orang tersebut yang belum terbukti kebenarannya. Menilai dan menghakimi seseorang di hadapan publik, tanpa mau memberikan kesempatan pada orang tersebut untuk mengemukakan argumentasinya atau membela dirinya.

Jadi memang benar sekali bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan….

 

Apabila prasangka buruk itu tertuju kepada saya, saya menolak untuk meladeninya. Kenapa?

Kalau dia tidak mengkonfirmasi atau mengkonfrontasi saya, maka itu berarti dia memilih untuk tidak mau penjelasan dari saya. Jadi buat apa saya capek-capek menjelaskan pada dia?

Saya juga tidak akan membalasnya dengan perbuatan yang sama. I refuse to be like him/her/them!

 

Lantas, kalau orang lain terpengaruh sehingga ikutan berprasangka buruk terhadap saya?

Ya biarkan sajalah…

Saya hanya memberikan penjelasan terhadap orang-orang yang meminta penjelasan dari saya.

Saya tidak butuh dianggap baik oleh semua orang di muka bumi ini.

Amat sangat mustahil semua orang menyukai saya, dan sebaliknya. :)

 

Saya tidak akan mengingkari bahwa saya marah, kecewa, dan sedih ketika ada orang yang berprasangka buruk terhadap saya. Tapi saya akan selalu mencoba untuk menikmati saja semua yang terjadi…

Semua prasangka buruk yang ditujukan pada saya, saya anggap sebagai peringatan supaya lebih berhati-hati menjaga sikap dan omongan.

 

Dan saya selalu berdoa, semoga saya tidak menjadi pelaku epistemic violence.

Amin…


Semestinya Kau Bahagia by Katon Bagaskara

Pintu Hati Yang Kaututup
Bolehkah Kubuka?
Sekedar Melangkah Masuk
Dan Coba Menyapa

Usah Lagi Kau Simpan
Kecewa Karna Dia
Beri Dirimu Kesempatan
Tuk Menyemai Cinta

Reguklah Nikmatnya
Rasakan Kembali Asmara
Biarlah Hangatnya Menyentuh
Menyembuhkan Luka
Dan Membelai Jiwa

Walau Nanti Umpama
Kita Tak Berdua
Tak Ada Sesal Kurasa
Karna Kau Layak Bahagia

Selamat Tinggal Muram
Hidup Indah Sayang Disiakan
Percayalah, Dukamu Bukan Akhir Dunia
Semestinya Kau Bahagia


Hijau dan Biru di Tengah Kota

 

Sudah beberapa tahun ini saya menetap di kota Medan, tepatnya sejak tahun 2006. Selama ini tidak pernah saya melihat kehadiran sawah-sawah di dalam kota Medan, makanya saya begitu takjub ketika berkunjung ke rumah seorang teman mendapati bahwa rumahnya bersebelahan dengan sawah. Padahal rumahnya tepat berada di tengah kota Medan dan tidak jauh dari jalan besar. Saya juga senang karena rumah-rumah di daerah tersebut pada umumnya tidak bertingkat, sehingga langit dapat dinikmati dengan bebas. Dapat saya bayangkan jika malam hari saya duduk di terasnya menikmati secangkir kopi atau teh, maka saya akan disuguhi pemandangan indah bulan dan bintang di langit malam.

Hari itu, saya bersyukur dapat menikmati hijaunya sawah dan birunya langit beserta udara yang nyaman untuk dihirup di kota Medan.


Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki

Tetap suka mendengar lagu cinta yang sederhana tetapi megah ini


Yogyakarta

Suatu saat nanti akan kembali mengunjungi Yogyakarta…. Insyaallah ;)


.:Batik:.

Belakangan ini batik amat sangat booming, digembar-gemborkan, sebagai salah satu usaha untuk mewujudkan gerak mencintai produk dalam negeri. Banyak pengusaha-pengusaha butik yang menjual produk-produk berbahan dasar batik, seperti baju, tas, agenda, sarung blackberry, sarung HP, dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri bahwa produk-produk keluaran butik-butik tersebut memang terlihat bagus dari segi kualitasnya, sehingga dapat dijual dengan harga yang mahal. Di suatu butik saja sebuah tas batik dapat dijual dengan harga minimal Rp 800.000,-, dan baju dijual dengan harga minimal Rp 300.000,-.

Sebenarnya untuk ukuran saat ini, harga yang sedemikian tidak lagi dikategorikan sebagai harga yang mahal. Terlebih dilihat dari proses pembuatan tas atau produk lainnya tersebut, semuanya dibuat dengan tangan, atau lebih dikenal dengan istilah handmade. Itulah yang membuat harga produk tersebut jadi melambung tinggi. Diriku mengerti hal tersebut, akan tetapi di sisi lain sebagai manusia biasa, aku tetap ngiler donk ingin memiliki produk-produk yang indah tersebut. Dan orang-orang dengan penghasilan yang belum mapan seperti diriku sangat sulit untuk menjangkaunya.

Tetapi bukan ketidakmampuanku untuk membeli produk-produk tersebut yang ingin kubahas di sini.

Ketika aku mengetahui bahwa pengusaha-pengusaha tersebut menjual produk mereka dengan harga yang sangat mahal, entah mengapa aku jadi berpikir “Apakah keuntungan besar seperti yang diperoleh para pengusaha-pengusaha tersebut juga dinikmati oleh para pengrajin batik?”

Aku pernah melihat berita di televisi mengenai para pengrajin batik, dan aku tidak melihat taraf hidup mereka berada di taraf menengah ke atas, malah cenderung di taraf menengah ke bawah. Mereka membatik benar-benar karena mencintai batik dan juga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

So you see, it’s very ironic thing…… Hampir setiap hari kita disuruh untuk mencintai batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia, beberapa perusahaan sampai memberlakukan hari batik, dimana sekali dalam seminggu para karyawannya harus menggunakan baju batik. Para pengusaha butik batik juga selalu mendorong kita untuk membeli batik dalam rangka mendorong gerakan mencintai batik yang sangat unik dan cantik itu.

Tetapi ketika dorongan mencintai batik digembar-gemborkan, apakah terpikir oleh mereka bahwa gerakan tersebut seharusnya dimulai dengan memikirkan kesejahteraan para pembatik? Apakah terpikir oleh mereka bahwa generasi pembatik sekarang adalah generasi yang usianya tergolong sudah tua, bagaimana dengan keberlanjutan generasi pembatik untuk ke depannya? Ketika para generasi muda menyadari bahwa membatik kurang bisa diandalkan sebagai pekerjaan yang memiliki penghasilan yang memadai, apakah mereka mau untuk menjadi generasi pembatik?

Di sisi lain, apakah pemerintah, para pengusaha, dan diri kita tentunya, menyadari dasar filosofis di balik proses pembuatan batik, dan makna batik itu sendiri bagi para pengrajin batik tersebut?

Membatik itu banyak mengandung filosofi-filosofi hidup, bahkan ada aspek religiusitas di dalamnya. Ada kesabaran, ketelitian, kerajinan, ketulusan, keikhlasan, kesucian hati, juga kejernihan pikiran yang terkandung dalam aktivitas membatik. Motif-motif batikpun memiliki sejarah dan cerita tersendiri. Batik tidak sekedar dianggap sebagai hasil karya yang komersil yang dapat mendatangkan penghasilan, namun nilai yang ada pada batik jauh melebihi itu semua.

Di Jakarta Globe, ketua Kauman Batik Turism Group menyatakan ‘Para pengrajin percaya bahwa setiap kali mereka menciptakan sesuatu, bukan mereka yang bekerja, tetapi Tuhan melalui badaniah dan jiwa mereka. Merasa bersyukur adalah cukup buat mereka.

Kemurnian luhur dan hati dalam membuat batik, sejak dulu kala memang tercipta dari proses yang dalam dan panjang buat sejarah kebudayaan Indonesia. Sejak masa Hindu hingga masuknya Islam dan penjajahan Belanda/Jepang di Indonesia. Setiap motif mempunyai makna yang dalam dan diciptakan oleh kalangan keraton, kadang melalui meditasi.

Karena nilai-nilai yang mereka anut tersebut, beberapa dari para pengrajin dan seniman batik di sana menyatakan kurang setuju dengan usulan paten motif batik dari pemerintah Solo.

Sumber: batikindonesia.com

Selama ini kita lebih sering dikenalkan dengan keindahan, kecantikan, dan keunikan batik. Tetapi kurang ataupun tidak dikenalkan dengan nilai-nilai batik itu sendiri, sehingga kita cenderung mengenal batik hanya sebatas karya seni budaya yang indah.

Setelah mengetahui beberapa hal mengenai batik seperti yang telah dipaparkan di atas, aku menjadi sadar bahwa sebenarnya batik itu sukar untuk ditentukan nilainya. Paling tidak hal tersebut membuat aku menyadari bahwa saat aku membeli sebuah produk batik, maka aku tidak hanya membeli sebuah keindahan belaka, tetapi aku juga terberi sebuah hasil karya seni yang mengandung nilai-nilai filosofi, sejarah, dan religiusitas di dalamnya. Dan semua itu sampai di tanganku yang bersumber dari energi dan keikhlasan para pembatik……

Killiney Coffee Shop,
Kamis, 15 Juli 2010


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.