Sekilas tentang Resiliensi
Coba bayangkan seandainya…
Bola merupakan diri kita
Lantai merupakan orang-orang yang signifikan bagi diri kita, seperti keluarga, pacar, teman-teman, ataupun berupa institusi tertentu.
Kekuatan hempasan merupakan permasalah hidup yang kita hadapi
Apabila bola yang tidak kempes dihempaskan pada lantai yang lembek dengan kekuatan hempasan yang lemah,
Maka bola tidak akan memantul dengan baik, pantulannya hanya sedikit sekali.
Apabila bola yang kempes dihempaskan pada lantai yang lembek, bahkan dengan kekuatan hempasan yang lemah sekalipun,
Maka bola tidak akan mampu untuk memantul. Bola akan menyerah terhadap hempasan tersebut.
Apabila bola yang kempes dihempaskan pada lantai yang keras dengan kekuatan yang lemah,
Maka bola juga tidak akan mampu untuk memantul dengan baik.
Apabila bola yang tidak kempes dihempaskan pada lantai yang keras, walaupun dengan kekuatan yang lemah,
Maka bola akan mampu memantulkan diri.
Bahkan apabila bola dihempaskan dengan kekuatan yang semakin kuat, maka bola akan bisa memantulkan dirinya lebih tinggi lagi!
Ilustrasi di atas merupakan ilustrasi dari resiliensi. Resiliensi itu merupakan daya pegas (bouncing ability) yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, baik itu permasalahan yang besar maupun yang kecil.
Dengan memakai ilustrasi di atas, maka bola harus memiliki isi udara dengan kualitas yang bagus dan tidak bocor supaya tidak menjadi bola yang kempes, sehingga mampu untuk memantul. Bola dapat diisi dengan rasa optimisme, kemampuan untuk fokus, tenang dalam menganalisa permasalahan yang dihadapi, dan hal-hal lainnya yang positif. Lantai harus merupakan dukungan sosial dari orang-orang yang signifikan bagi kita, yang memiliki kekuatan agar menjadi lantai yang keras yang mampu membantu bola untuk memantul.
Menurut Grotberg (1999) resiliensi merupakan kapasitas yang dimiliki oleh manusia untuk menghadapi, mengatasi, dan mendapatkan penguatan, bahkan mencapai transformasi diri setelah menghadapi berbagai macam pengalaman-pengalaman yang sulit dalam kehidupan. Fergus dan Zimmerman (2005) menyatakan bahwa positive adjustment merujuk pada suatu outcome dari resiliensi.
Orang-orang yang memiliki resiliensi mampu bangkit dari trauma yang mereka alami. Mereka mencari pengalaman baru yang menantang karena mereka belajar bahwa hanya melalui perjuanganlah mereka dapat memperluas wawasan. Mereka memahami bahwa kegagalan bukanlah titik akhir. Mereka tidak malu saat mereka tidak berhasil, tetapi justru dapat mengambil makna dari kegagalan dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mencoba lebih baik dari yang pernah mereka lakukan (Reivich & Shatte, 2002).
Salah satu penelitian mengenai resiliensi yang dilakukan oleh Nettles, Mucherah, dan Jones (2000) menemukan bahwa resiliensi tercapai apabila seseorang memiliki akses terhadap social resources seperti orang tua yang perhatian dan hubungan yang saling mendukung dengan orang sekitarnya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Grotberg (1999) bahwa kita memerlukan orang lain agar bisa mencapai resiliensi.
Harus diingat bahwa ketika kita memiliki resiliensi yang baik, bukan berarti kita terbebas dari semua permasalahan hidup, tetapi resiliensi merupakan senjata kita untuk mengatasi semua permasalahan tersebut. Grothberg (1999) mengemukakan resiliensi tidak melindungi kita dari rasa sakit dan penderitaan, tetapi dapat memicu respon-respon resiliensi yang akan membantu kita untuk mengatasi kesulitan yang kita rasakan. Selanjutnya Reivich dan Shatté (2002) menyatakan bahwa resiliensi mentransformasi kesulitan menjadi sebuah tantangan, helplessness menjadi suatu kekuatan. Resiliensi mampu mengubah seorang korban menjadi survivor, dan memungkinkan survivor untuk maju dan mengembangkan dirinya.
Menurut Reivich dan Shatté (2002) resiliensi bersifat kontinum, dimanapun seseorang “jatuh” pada garis kontinum tersebut, maka kita mampu menaikkan resiliensi kita dengan meningkatkan kemampuan kita dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup kita. Dengan demikian, resiliensi bisa dipelajari dan dicapai pada setiap tahap kehidupan kita