Ada yang Aneh

Ada yang aneh…
Kita sering menilai jelek orang-orang yang berada dalam dunia politik/pemerintahan. Selalu ingin ada dooonk orang yang baik dalam dunia politik/pemerintahan untuk membawa Indonesia menjadi lebih maju. Harusnya ada donk figur yang berwibawa… blablabla

Memang aneh…..
Ketika ada figur non politisi/non pemerintahan yang kita kagumi, yang kita hormati terjun ke dunia politik… Langsung deh kita memberi stigma pada mereka. Memberi cap bahwa itu orang itu pasti ada “kepentingan sesuatu” sehingga mau terjun ke dunia politik yang kotor. Seharusnya dia tetep aja di tempatnya semula. Seharusnya dia tetep aja melakukan apa yang selama ini dia kerjakan. Seharusnya dia tetep menempati tempat yang terhormat seperti yang kita anggap selama ini.
Kita langsung kehilangan respect pada orang ini setelah memberikan stigma.

Aneh kan ya….
Kita ingin ada orang yang baik dalam dunia politik/pemerintahan, begitu ada orang yang baik yang mau masuk lantas langsung kita beri stigma, bukannya didukung, dihargai, dikawal, dan dikritisi secara positif.

Benar-benar aneh….
Kita hanya ingin orang-orang jelek yang tetep ada di dunia politik, agar bisa terus-menerus kita caci maki, kita kritik, dan kita kebiri.

Aneh memang….
Apa maunya kita?

Advertisements

Ibu yang bekerja = tidak mulia?

image

Beberapa waktu yang lalu banyak banget posting meme di atas berseliweran di lini masa facebook saya. Sebenernya bikin gemeeesss, kok bisa semena-mena menghakimi para ibu yang bekerja??

Saya seorang ibu yang bekerja dan memiliki dua orang anak. Saya tidak perlu menjelaskan ke semua orang kenapa saya menjadi seorang ibu yang bekerja. Saya tidak perlu menjelaskan kenapa saya memilih untuk tidak menjadi ibu yang tidak bekerja.

Saya yakin setiap ibu punya alasan yang tersendiri kenapa ia memilih untuk bekerja. Bukan urusan khayalak ramai untuk menghakimi.

Suami saya memberi dukungan pada saya untuk bekerja, lantas kenapa orang lain merasa perlu untuk mempermasalahkan?

Bekerja atau tidak bekerja merupakan pilihan yang diambil dengan kesadaran akan konsekuensinya. Pilihan tiap orang berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai yang dianutnya.

Tidak ada kepastian bahwa anak yang diasuh oleh ibu yang tidak bekerja akan menjadi lebih baik daripada anak yang diasuh oleh ibu yang bekerja, demikian sebaliknya. Penelitian-penelitian sudah membuktikan hal itu. Silakan googling sendiri.

Jika ada yang menggunakan alasan agama untuk menyatakan bahwa seorang perempuan harusnya tidak bekerja, mohon baca kembali sejarah nabi Muhammad SAW. Mohon diingat bahwa istri nabi yang bernama Khadijah merupakan pengusaha yang makmur, dan nabi tak pernah melarangnya tuh. Tak pernah nabi merendahkan atau menghakimi Khadijah yang bekerja.

Tidak berkurang cinta ibu yang bekerja kepada anaknya sebagaimana cinta ibu yang tidak bekerja kepada anaknya.

Jika saja semua orang memiliki empati, tindakan menghakimi seperti pada meme di atas tidak akan terjadi.

Sisi Lain Sebuah Doa

Semua umat beragama pasti mengenal doa, dan saya pikir kita semua pernah berdoa. Ada ungkapan yang sering sekali kita dengar, yaitu:

Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya, selebihnya Allah yang menentukan.

Dari beberapa sumber, saya menyimpulkan bahwa arti sederhana dari doa adalah memohon kepada Allah agar permintaan kita dapat terkabul. Hal ini menunjukkan bahwa doa itu memiliki kekuatan yang maha dahsyat dalam arti positif.

Beberapa saat yang lalu ada satu kejadian yang membuat saya berpikir ulang tentang doa. Ilustrasi kejadiannya seperti ini:

Seorang manusia bernama A telah membeli barang yang tadinya dimiliki oleh saudaranya bernama B. A membayar barang tersebut secara berkala kepada B, jadi tidak langsung lunas. Karena yang membeli barang tersebut adalah saudaranya sendiri, maka B memberikan harga yang murah dan cicilan tetap yang sangat ringan. Kemudian untuk berjaga-jaga, A membuat surat perjanjian jual-beli barang yang harus ditandatangani oleh A dan B, ditambah dua orang saksi.

Beberapa saat kemudian setelah A menikmati barang tersebut, A ingin membatalkan pembelian, dan menjual kembali barang tersebut kepada B. Akan tetapi A menetapkan harga yang tinggi dengan menggunakan alasan bahwa jika memakai suku bunga bank, maka harga barang tersebut jika dijual akan berharga sekian, lebih tinggi dari harga barang saat dibeli oleh A. Tadinya B menolak untuk membeli kembali dengan harga yang tinggi, namun A terus meneror dengan kata-kata dan perbuatan yang tergolong kasar. Sebenarnya jika B mau mengangkat kasus ini ke pengadilan, maka dipastikan B yang akan menang mengingat surat perjanjian yang telah disepakati ternyata cacat hukum.

Akan tetapi karena tidak mau ribut dengan saudara sendiri, akhirnya B mengabulkan permintaan A. B sebenarnya sangat sedih dan harus berusaha mendapatkan uang dari beberapa sumber agar bisa mengabulkan permintaan A.

Selama kejadian ini A selalu berdoa kepada Allah agar ia dapat menerima apa yang dianggapnya merupakan haknya. Akhirnya ketika A mendapatkan yang diinginkannya dari B, A menyatakan rasa terima kasih dan syukurnya kepada Allah yang telah mengabulkan doanya. Setelah pelunasan tersebut, hubungan A dan B menjadi renggang. A tidak pernah sekalipun menghubungi B, ataupun bertamu bahkan menginap di rumah B seperti yang selama ini dia lakukan.

Kejadian di atas membuat saya berpikir ulang tentang sebuah doa. Bahwa ketika kita menganggap doa kita dikabulkan oleh Allah, ternyata ada sisi lain dari doa yang tidak kita ketahui. Ada orang yang dapat dikatakan teraniaya agar kita mendapatkan yang kita inginkan. Ada pihak lain yang harus bersusah-payah melakukan sesuatu yang akan mendukung terkabulnya doa kita. Dampak dari terkabulnya doa tersebut juga bisa ‘negatif’. Lantas, apakah benar jika kita menganggap bahwa doa kita dikabulkan oleh Allah? Apakah itu sebuah doa? Sayapun tak mengerti……

Ketika doa kita terkabul, ternyata ada pertanggungjawaban yang menyertainya. Allah tidak main-main saat mengabulkan doa umatnya, Allah mengajarkan kita untuk bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, dan yang kita minta.

Sampai di sini, pemikiran saya berhenti. Memang ada beberapa hal yang tak bisa diterangkan oleh logika saya sebagai manusia, salah satunya adalah tentang doa yang ternyata memiliki beberapa sisi.

Suatu Kisah Kehamilan: Kafka Sang Pejuang Nan Baik Hati :’)

Bagi saya pribadi, anak saya yang bernama Kafka Rajata Zadiansyah adalah seorang pejuang dan baik hati banget sejak masih berada dalam rahim saya. Kenapa?

Pertama kali kontrol ke dokter obgyn, komentar dokternya adalah bahwa saya sangat beruntung dan kehamilan ini termasuk sebuah keajaiban sehingga saya dan suami harus bersyukur. Kemudian dia mengatakan bahwa saya memiliki miom. Miom saya terletak di bagian atas sehingga hampir menutupi jalan masuk ke tuba falopi (tempat bertemunya sperma dengan sel telur). Dokter mengatakan mungkin ada sedikit celah sehingga sperma mampu melanjutkan perjalanan menemui sel telur saya. Nah, miom yang saya miliki bersifat parasit yang akan membesar seiring usia janin bertambah, sehingga punya resiko mendorong janin untuk keluar. Apalagi dengan miom saya letaknya di bagian atas sementara letak janin di bawah dekat dengan mulut rahim, resiko keguguran akan semakin besar. Makanya dokter bener-bener memperingatkan saya untuk tidak mengangkat yang berat-berat, dan kalo ada flek yang keluar saya harus langsung menghubungi dia. Saat kontrol pertama kali ke dokter inilah kami melihat Kafka untuk pertama kalinya lewat USG 4 dimensi. Saat itu usia kehamilan saya sudah hampir dua bulan. Rasanya WUOOOGHHHHHH begitu melihat sudah ada pembentukan kepala, lengan, dan kaki. Terharu!

Oya, sejak awal kehamilan saya tidak merasakan morning sickness seperti ibu-ibu hamil pada umumnya. Saya juga tidak merasakan lemes, ndak selera makan, ato lainnya. Pokoke menyenangkan sekali. Sebagai seorang pekerja, aktivitas saya tidak terganggu dengan kehamilan ini. Saya malah jadi seneng dandan, dan rasanya selalu memiliki energi untuk beraktivitas. Saya langsung merasakan bahwa ini anak baik budi bangeeeettttt ndak merepotkan emaknya. :’)

Kemudian saya harus memasuki “karantina” diklat prajabatan (untuk pegawai negeri) selama hampir 3 minggu. Di usia kehamilan yang belum menginjak 3 bulan, membuat saya khawatir banget. Kenapa? Karena saya tidak mempunyai berbagai pilihan makanan yang sehat untuk ukuran ibu hamil selama masa prajabatan. Sementara asupan makanan untuk 3 bulan pertama amat penting dijaga untuk tumbuh kembang janin. Dan benerkan….saya sempat mengalami alergi karena bahan makanan tertentu yang terdapat dalam makanan selama masa prajabatan tersebut. Pada seluruh kulit saya muncul bercak-bercak merah yang gatel banget. Saya kemudian diberi dokter obgyn saya obat alergi yang tentunya aman untuk janin saya. Ada hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, yakni ketika teman sekelas prajabatan saya ternyata mengalami cacar air. Saya sudah pernah mengalami cacar air, tetapi virus tersebut tetap dapat tertular ke janin yang saya kandung. Kebayangkan stress-nya saya pada waktu itu. Kalo udah malem dan mau tidur saya tidak bisa mengontrol emosi saya. Pasti mewek deh memikirkan resiko yang harus dihadapi oleh Kafka yang masih di dalam perut akan kemungkinan terinfeksi virus cacar air tersebut. Akan tetapi Kafka tetep kuat dan ndak nyusahin saya. Kafka tetep bertahan dan tetep tumbuh berkembang dalam rahim saya hingga masa karantina prajabatan usai.

Selama kehamilan saya beberapa kali mengalami nyeri di perut bagian bawah. Menurut dokter hal tersebut terjadi karena posisi janin yang di bawah, sehingga ketika aktivitas saya agak berlebihan jadi nyeri karena janin agak terdesak ke bawah. Tapi lagi-lagi Kafka kuat, dia tetap tumbuh normal. Plus ndak nyusahin, karena saya tidak perlu mengkonsumsi obat untuk mengurangi rasa nyeri, cukup dengan berbaring beberapa saat maka nyeri tersebut akan langsung menghilang.

Seperti ibu hamil pada umumnya, saya juga sering mengusap perut sambil berbicara dengan sang jabang bayi dalam kandungan. Sering saya ajak komunikasi, terutama minta maaf kalo pas saya lagi bersedih.  Saya akan mengatakan bahwa saya tidak bermaksud untuk membuat dia sedih juga, jadi jangan ikutan sedih ya nak… :’)

Miom yang ada dalam kandungan saya makin lama semakin membesar sehingga membuat ruang gerak Kafka dalam rahim menjadi sangat terbatas. Saya jarang bisa merasakan pergerakannya. Hanya sekali saya dan suami bener-bener merasakan tendangan/tinjunya yang sangat kuat, saat suami saya mengusap perut saya sambil ngomong ke Kafka. Kafka juga harus berbagi ‘makanan’ dengan miom karena miom yang bersifat parasit juga akan berusaha merebut ‘makanan’ yang sebenernya diperuntukkan untuk Kafka. Lagi-lagi Kafka tetep bisa bertahan dan berkembang berdampingan dan berbagi ‘makanan’ dengan miom.

Ada saat-saat tertentu sewaktu perut bagian bawah saya terasa nyeri, saya jadi khawatir dengan kondisi Kafka. Saya pasti mengelus perut saya sambil meminta Kafka untuk memberi tanda kalau dia baik-baik saja di dalam rahim saya. Walaupun saya jarang merasakan pergerakannya, tetapi ketika saya memohonnya untuk memberi tanda keberadaannya, pasti Kafka mengabulkannya dengan memberikan tendangan atau semacam tekanan ke perut saya sehingga saya yakin dia masih ada dan hidup dalam diri saya. Kebayangkan ya di tengah keberadaan miom yang makin membesar, yang membuat ruang geraknya sangat terbatas, dia selalu berusaha memberikan tanda kepada saya ketika saya memohonnya. Baik budi kan ya… :’’”)

Setelah kontrol pertama ke dokter, saya dan suami tidak pernah lagi bisa melihat Kafka secara utuh lewat USG 4 dimensi karena memang pertumbuhan miom yang amat besar membuat Kafka selalu tertutupi oleh miom. Sedih deh….

Kafka diprediksi akan lahir di akhir bulan Desember. Pada akhir bulan November ketika saya kontrol ke dokter, dokter menemukan bahwa tekanan darah saya tinggi plus air ketuban saya sudah berkurang volumenya. Kemudian dokter juga mengatakan bahwa ukuran dan berat Kafka ternyata masih kurang banyak, sehingga saya disuruh beristirahat, mengkonsumsi air putih banyak-banyak, dan obat-obat tertentu untuk menjaga tumbuh kembang Kafka di dalam rahim. Anehnya saya tidak mengalami gejala apapun yang dialami oleh ibu hamil yang tekanan darahnya tinggi. Saya tidak merasakan pusing, mual, dan lainnya. Tetap mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Oh Kafka-ku yang baik budi dan tak menyusahkan……

Pada awal Desember, tepatnya tanggal 6 Desember 2012, saya kembali kontrol ke dokter di siang hari. Ternyata tekanan darah saya semakin tinggi dan air ketuban semakin berkurang. Dari hasil pemeriksaan urin ditemukan bahwa terdapat kandungan protein yang tinggi. Tekanan darah yang tinggi plus protein dalam urin membuat diagnosa preeklampsia menjadi positif. Dokter langsung memerintahkan (bukan lagi meminta) agar hari itu juga saya segera masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif, karena Kafka harus segera dilahirkan. Resiko kematian bagi saya dan Kafka menjadi sangat tinggi, apalagi kalau sudah sampai ke tahap eklampsia.

Saya langsung mengikuti anjuran dokter, begitu sampai di rumah langsung packing barang-barang yang dibutuhkan. Begitu suami saya pulang, saya langsung nangis. Setelah Maghrib, saya resmi masuk rumah sakit. Dokter menginjeksikan obat pematangan paru-paru untuk Kafka selama dua hari berturut-turut sebelum Kafka dilahirkan. Saya hanya bisa bed rest tanpa melakukan aktivitas apapun untuk menjaga agar tekanan darah saya tidak naik dengan cepat. Perkembangan Kafka saat itu sebenernya sama dengan perkembangan bayi yang hanya berusia 33 minggu, tidak sesuai dengan perkembangan yang seharusnya dicapainya mengingat usia kehamilan saya pada saat itu sebenernya sudah memasuki bulan ke 9. Namun Kafka harus segera dilahirkan, dia akan lebih baik diberi nutrisi di luar kandungan saya, karena preeklampsia menyebabkan plasenta saya sudah tidak berfungsi dengan baik untuk menyalurkan makanan kepada dia. Setiap 3 jam suster akan memeriksa detak jantung Kafka melalui perut saya. Detak jantungnya tetap kuat menggema, saya dan suami selalu merasa bersyukur luar biasa saat mendengar detak jantungnya yang kuat itu.

Kemudian hari kelahiran Kafka tiba. Tanggal 8 Desember di siang hari saya masuk ruang operasi. Tekanan darah saya sudah mencapai 200 lebih per 100-an saat dilakukan operasi caesar. Alhamdulillah saya tidak perlu dibius total. Ketika saya melihat Kafka dikeluarkan dari perut saya, dia tidak langsung menangis tetapi seperti tersedak. Saya juga melihat badan Kafka diselubungi oleh lendir yang berwarna kehijauan. Itu indikasi bahwa air ketuban saya yang hanya tinggal sedikit itu sudah berubah warnanya menjadi kehijauan yang sangat tidak kondusif bagi Kafka yang berada dalam rahim saya. Menakjubkan Kafka dapat bertahan dalam kondisi air ketuban seperti itu, ditambah miom yang membesar.

Setelah Kafka dikeluarkan, saya tidak bisa melihat Kafka lagi karena saya harus tetap di ruang operasi untuk pengangkatan miom. Ternyata miom yang diangkat berjumlah 5 buah. Satu miom berukuran sama dengan kepala Kafka, sementara 4 miom lagi berukuran seperti bakso tenis. Dokter dan para kolega yang ada di dalam ruang operasi sampai takjub karena Kafka dapat bertahan di tengah miom-miom sebesar itu tanpa gangguan yang berarti selama kehamilan.

Setelah selesai operasi saya harus masuk ruang ICU untuk pemantauan tekanan darah saya. Tekanan darah saya sudah berangsur-angsur turun walaupun belum bisa dikategorikan normal. Suami saya memberitahu bahwa ketika dia dipanggil suster untuk melihat Kafka, Kafka bisa menjerit nangis dengan kenceng dan kuat. Kemudian suami saya meng-adzan-in Kafka, dan setelah itu suami saya memfoto Kafka. Jadi saya hanya bisa melihat foto Kafka di ruang ICU. Kafka terlihat mungil sekali di foto itu, Kafka lahir dengan berat 1.85 kg dan panjang 45 cm. Tapi dia hidup dan baik-baik saja, malah tersenyum saat difoto Ayahnya. Senyum yang menyejukkan hati saya. Kafka dimasukkan ke dalam inkubator, karena dokter tidak mau mengambil resiko kalau Kafka ditempatkan satu kamar dengan saya.

Image

Saya terharu ketika akhirnya saya bisa memberikan ASI kepada Kafka di ruang bayi untuk pertama kalinya saat di rumah sakit. Refleks menghisapnya bagus dan ASI saya langsung keluar. Oh he was so strong!!!! Saya juga sempat memfoto Kafka saat itu.

Image

Setiap tekanan darah saya diperiksa setelah bertemu Kafka, pasti hasilnya cukup bagus. Tetapi setiap tekanan darah saya diperiksa sebelum bertemu Kafka, pasti hasilnya jelek. Sampai akhirnya dokter memperbolehkan saya pulang karena dampak psikologis saya kalo berpisah dengan Kafka membuat tekanan darah saya tidak turun dengan stabil, ditambah lagi ketidaknyamanan saya tinggal di rumah sakit yang membuat kuliatas tidur saya tidak bagus. Bahagia saya bertambah karena Kafka mampu mempertahankan suhu badannya tetap normal ketika berada di luar inkubator selama lebih dari satu jam, saat saya memberi ASI kepadanya di ruang bayi yang notabene ber-AC. Sehingga ketika saya diperbolehkan untuk pulang, saya bisa membawa Kafka yang mungil ini pulang bersama saya.

Image

Setelah semua yang dilewati Kafka sejak dalam rahim saya hingga kelahirannya, Kafka tetap kuat bertahan untuk bisa bertemu dengan kami. Kafka adalah pejuang dan sangat baik hati. Bahkan sampai sekarang di usianya 14 bulan, bisa dibilang Kafka tidak pernah menyusahkan kami. I love you so much my little warior, more than words can say. More than words. Beyond words…… :””””)

Image

Aside

Satu dari Sekian Cerita

Saya menikah hari Sabtu 11 Februari 2012 dikelilingi oleh para keluarga dan sahabat tercinta.

Image

 

IMG_6332

Setelah menikah sebenernya belum ingin langsung memiliki anak. Kenapa? Saya inginnya mau beradaptasi dengan suami saya dalam kehidupan pernikahan dulu. Secara teorikan begitu ya….banyak yang harus disesuaikan antar pribadi dalam pernikahan, terlebih saya dan suami ndak pake pacaran yang lama-lama. Lah, ntar kalo langsung punya anak bakal lebih ribet adaptasinya.

Tapi setelah dipikir-pikir…….Image

Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak menunda memiliki anak. Kenapa? Soale yang namanya proses adaptasi dengan pasangan itu akan berlangsung seumur hidup, ndak akan pernah selesai. Saya saat menikah telah berusia 33 tahun dan perokok aktif, yang dari segi medis dikhawatirkan kualitas sel telur dan kesuburan secara umum sudah tidak semegah usia 20-an. Yang terakhir mikirnya sih kalo ditunda lagi, ntar saya ketuaan untuk ngurus anak. Kebayangkan ya kalo udah tua masih harus begadang malem-malem ngurus bayi, apa sanggup?

Tapi juga kami ndak ngotot untuk pengobatan atau terapi sana-sini supaya cepat memiliki anak. Pokoke kapan dikasinya aja. Nah, ketika beberapa hari perut saya selalu terasa kram, beberapa teman menganjurkan saya untuk tes kehamilan. Tanggal 29 April 2012 saya melakukan tes pack di rumah. Hasilnya…..

Image

Ada dua garis, berarti POSITIF! Yeaaayyy……

Kehamilan saya ini secara umum menyenangkan banget. Tapi ntar saya ceritain deh suka dukanya kehamilan, kelahiran, dan setelah lahiran. Kalau sekarang diceritain bakal panjang deh.

Yang penting sekarang kami bertiga lagi menikmati proses bertumbuh dan berkembangnya keluarga kecil kami ini.

Perkenalkan Kafka Rajata Zadiansyah, lahir 8 Desember 2012. He’s a toddler now :’)

Image